Panglima Kenaik

Kampung Bukit Batu. (Foto: disparbudpora.bengkaliskab.go.id)
  • Sebuah keris panjang, yang diyakini sebagai pusaka pemberian Sultan Siak kepada Panglima Kenaik.
  • Makam Panglima Kenaik, terletak di Kampung Gawar-Gawar, Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis.
  • Keturunan beliau yang masih menjaga tradisi dan kisah-kisah lisan tentang keberaniannya.

Dalam tradisi masyarakat Melayu Bukit Batu, Panglima Kenaik dikenang bukan hanya sebagai panglima perang, tetapi juga sebagai simbol kesetiaan, keberanian, dan ketaatan kepada agama.

Nama Panglima Kenaik hidup kuat dalam tradisi lisan masyarakat Melayu Bukit Batu dan Sungai Pakning. Cerita tentang keberaniannya melawan lanun, kesetiaan terhadap Sultan Siak, dan pengabdiannya pada Datuk Laksamana Ibrahim diwariskan turun-temurun dari para tetua kampung.
Dalam kisah rakyat, Panglima Kenaik digambarkan sebagai sosok yang:

Bacaan Lainnya
  • Berani dan tangkas di medan tempur, namun halus tutur dan berbudi bahasa dalam keseharian.
  • Mampu membaca tanda alam dan firasat, suatu kemampuan yang dianggap sebagai hasil dari ilmu kebatinan yang dipelajarinya.
  • Berperang dengan keris panjang, pusaka pemberian Sultan Siak yang diyakini berisi semangat leluhur kerajaan.

Dalam versi lisan lainnya, diceritakan bahwa ketika Panglima Kenaik berangkat ke Bukit Batu atas perintah Sultan, ia tidak menoleh ke belakang walau dipanggil oleh keluarganya—tanda kesetiaan penuh kepada daulat raja.
Ungkapan ini kemudian menjadi pepatah yang masih dikenal oleh masyarakat Bukit Batu:

“Seperti Panglima Kenaik, berangkat tidak menoleh.”
Maknanya: seseorang yang teguh pada tugas dan janji, tidak goyah oleh rayuan atau keraguan.

Salah satu peninggalan Panglima Kenaik yang paling dikenal adalah sebilah keris panjang, diyakini sebagai pusaka kerajaan Siak yang diberikan pada saat pengangkatannya sebagai panglima.
Keris ini masih disimpan oleh keturunannya di Gawar-Gawar, dan hanya diperlihatkan pada momen adat tertentu, seperti musyawarah kampung atau peringatan sejarah Bukit Batu.

Menurut cerita, keris tersebut memiliki pamur berkilat seperti air sungai di bawah sinar matahari, dan dihormati sebagai simbol marwah dan amanah. Dalam kepercayaan lokal, pusaka itu tidak boleh digunakan sembarangan, karena dianggap memiliki “semangat” yang menjaga keturunan Panglima Kenaik.

Daftar Pustaka
Ahmad, A. (1995). Sejarah Siak Sri Indrapura dan Tokoh-tokoh Pahlawannya. Pekanbaru: Balai Kajian Melayu Riau.
Ali Haji, Raja. (1986/1987). Kitab Pengetahuan Bahasa. Transliterasi oleh R. Hamzah Yunus. Pekanbaru: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Junus, Hasan, dkk. (2002). Kerajaan Indragiri: Sejarah dan Naskah. Pekanbaru: Yayasan Adat Melayu Riau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *