Putri Hijau adalah tokoh perempuan dalam tradisi lisan Melayu Rokan Hilir yang digambarkan sebagai seorang putri jelita dari Gunung Ledang, tanah tinggi di Semenanjung Tanah Melayu (sekarang wilayah Johor-Melaka. Ia turun melakukan pengembaraan untuk mencari jodoh sesuai dengan petanda takdir, yang diramalkan oleh dewa atau wali gaib.
Putri Hijau dikenal memiliki kulit bening kehijauan, rambut panjang hitam berkilau, dan sinar wajah yang memancarkan cahaya lembut seperti zamrud. Karena itu, orang-orang menjulukinya Putri Hijau. Dalam banyak versi cerita, cahaya hijau yang terpancar darinya dianggap sebagai tanda kesucian dan kemuliaan keturunan raja-raja dari alam bunian (makhluk halus yang baik dan berilmu).
Setelah menolak pinangan beberapa raja besar dari negeri lain—termasuk dari Melaka dan Pasai—Putri Hijau melakukan pengembaraan mencari jodoh sejati, yaitu seorang laki-laki yang kepalanya memiliki bekas parutan luka. Ramalan orang tua istana menyebutkan bahwa laki-laki itu yang ditakdirkan menjadi pendampingnya
Dalam pengembaraannya dari Semenanjung, Putri Hijau menyeberangi Selat Melaka dengan sampan kecil berkelambu putih, diiringi sinar hijau yang terlihat dari kejauhan. Perjalanannya membawanya melintasi negeri-negeri Melayu: dari Gunung Ledang (Melaka) ke Bintan, kemudian ke pesisir Rokan, hingga akhirnya menetap sementara di Kerajaan Pekaitan, yang pada masa itu sedang makmur di bawah pemerintahan Yang Dipertuan Besar Sungai Daun.
Putri Hijau di Pekaitan
Dalam hikayat rakyat, ketika tiba di Pekaitan, Putri Hijau menyamar sebagai seorang perempuan tua. Ia tinggal di rumah seorang hulubalang kerajaan bernama Datuk Penjarang, yang tidak lain adalah Kepala Hulubalang di bawah Panglima Nayan.
Selama tinggal di sana, Putri Hijau menyembunyikan jati dirinya, hingga suatu hari ia melihat bahwa Datuk Penjarang memiliki bekas luka parutan di kepalanya, tanda yang selama ini dicarinya.


