Manumbai

Batang Sialang beserta dengan Rimba Kepungan Sialang murupakan bagian dari tanah ulayat yang dijaga oleh hukum-hukum adat. (Foto: kosabudaya.id)

Menumbai (juga disebut manumbai) adalah upacara tradisional masyarakat Melayu Riau dalam mengambil madu lebah dari batang sialang. Ritual ini merupakan bentuk perpaduan antara aktivitas ekonomi, spiritualitas, dan seni lisan Melayu.

Dalam tradisi ini, pengambilan madu tidak hanya dianggap sebagai kegiatan fisik, tetapi juga upacara penghormatan terhadap alam dan makhluk lain yang hidup di dalamnya. Proses menumbai dilakukan dengan melantunkan mantera-mantera dalam bentuk nyanyian atau dendang, yang dipercaya dapat menenangkan lebah dan menjaga keselamatan para pelaksana upacara.

Bacaan Lainnya

Pelaku Upacara
Ritual menumbai dilaksanakan oleh kelompok khusus yang disebut kelompok manumbai. Setiap anggota memiliki peran tertentu, yaitu:

  • Juragan Tua – pemimpin utama ritual dan pengambil keputusan.
  • Empat Tukang Dendang – penyanyi mantera yang mendendangkan pantun dan doa.
  • Dua Tukang Sambut – bertugas mengumpulkan madu yang jatuh dari pohon.
  • Pincuan – pengambil madu atau lilin lebah dari sarang.
  • Tukang Remas Kepala Lambuk – pengolah bagian sarang lebah.
  • Tiga Juragan Muda – pembantu juragan tua dalam pelaksanaan di lapangan.

Dalam beberapa komunitas adat, kepala suku atau pemuka adat juga hadir untuk memberi restu dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Peralatan Upacara
Beberapa alat tradisional digunakan dalam upacara menumbai, antara lain:

  • Tunam – obor dari daun kelapa kering, berfungsi untuk mengasapi dan menyapu lebah dari sarangnya.
  • Tali – digunakan untuk memanjat atau menurunkan madu dari pohon tinggi.
  • Timba dan Wadah Pincuan – tempat menampung madu atau lilin lebah yang telah diambil.

Semua alat ini disiapkan dengan hati-hati dan tidak boleh digunakan sembarangan, karena dianggap memiliki nilai sakral dalam prosesi ritual.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Menumbai dilaksanakan di pohon sialang, yaitu pohon besar dan tinggi tempat lebah bersarang, umumnya terdapat di hutan-hutan sekitar perkampungan Melayu.

Ritual ini dilakukan pada malam bulan gelap (bukan malam purnama), karena diyakini suasana malam gelap lebih aman dan mendukung keberhasilan pengambilan madu.

Pohon sialang sendiri dianggap pohon keramat yang harus dihormati. Sebelum upacara dimulai, para pelaku menumbai biasanya memanjatkan doa dan memberi sesaji sebagai simbol permohonan izin kepada roh penjaga pohon serta lebah yang bersarang di sana.

Prosesi Upacara
Selama ritual berlangsung, tukang dendang melantunkan nyanyian ritual yang berisi pantun dan mantera.
Lirik-liriknya menggambarkan perjalanan sang juragan menuju “kekasih” yang diibaratkan sebagai lebah di sarang sialang.

Tema pantun biasanya penuh kiasan dan perumpamaan, seperti kisah seorang lelaki yang datang meminang gadis pujaannya, menggambarkan sikap sopan, sabar, dan rendah hati sang juragan dalam menghadapi lebah.

Nyanyian ini berfungsi untuk:

  • Menenangkan lebah agar tidak menyerang.
  • Menyampaikan permohonan izin kepada alam dan roh penjaga pohon.
  • Menyemangati para pelaku ritual selama proses berlangsung.

Tahapan Upacara
Meminta izin berkunjung ke rumah si gadis
Pada tahap ini, juagan memulai dengan membaca mantera, kemudian perlahan-lahan menepuk batang sialang menunggu jawaban lebah-lebah. Dengung ribuan lebah adalah pertanda juagan diizinkan memanjat pohon. Tetapi jika tidak terdengar dengung, maka pemanjatan harus ditunda.

Mengucap salam dan menghormati tuan rumah
Setelah mendapat izin, sambil mengelilingi pohon sialang tiga kali, juagan menyanyikan lagu ritual menuo sialang yang berisi penghormatan kepada roh atau “tuan” pohon sialang. Salah satu versi pantun menuo sialang ini yaitu:

Pinjam tukul pinjam landean
pinjam pemukul pinjam landasan
Untuk memukul kalakati
untuk memukul kalakati
Pinjam dusun pinjam laman
pinjam dusun pinjam halaman
Numpang memain sekolam ki
numpang bermain di kelam ini

Popat-popat tana ibu
pepat-pepat tanah ibu
Ma’i popat di tana tombang
mari dipepat di tanah tombang
Nonap-nonap Cik Dayang t
idou lelap-lelap Cik Dayang tidur
Juagan mudo di pangkal sialang
juagan muda di pangkal sialang

Cik Dayang menggulung daun
Cik Dayang menggulung daun
Tagulung suat katoba
tergulung surat khotbah
Tujuh musim sombilan tahun
tujuh musim sembilan tahun
Buat kito jangan diubah
buat kita jangan diubah

Menaiki rumah
Juagan bersiap-siap memanjat pohon sambil menyanyikan lagu berikut:

Di ilei awang di ulu awang
di hilir awang di hulu awang
Pandan tebuang di tongah-tongah
pandan terbuang di tengah-tengah
Di ilei kasih di ulu sayang
di hilir kasih di hulu sayang
Badan tebuang di tongah-tongah
badan terbuang di tengah-tengah

Begitu mencapai dahan tempat sarang lebah, juagan menyanyikan lagu berikut:

Masak bua kombang mani
masak buah kembang manis
Masak sabutie dijaut ungko
masak sebutir dijangkau ungka
Kami batomu nan itam mani
kami bertemu dengan si hitam manis
Mangulang da’a ke muko
menjulang darah ke muka

Ketika makin mendekati sarang lebah, juagan menyanyikan:

Bukan elok ulu badik
bukan (main) elok hulu badik
Untuk pa’uki baling-baling
untuk pengukir baling-baling
Bukan elok tompat adik
bukan (main) elok tempat adik
Tompat kito duduk besanding
tempat kita duduk bersanding

Bertemu si gadis
Ketika juagan telah di dekat sarang dan akan mulai menyingkirkan lebah-lebah, juagan menyanyikan lagu berikut:

Anak buayo mudik mendudu
anak buaya mudik mendudu
Iyak sampai di pelabuhan
riak sampai di pelabuhan
Putih Kuning bukakan baju
putih kuning bukakan baju
Abang menengok betubuhan
abang menengok petubuhan

Lalu juagan mengusap sarang lebah dengan obor, sehingga lebah-lebah pun beterbangan dan sebagian jatuh ke tanah. Lebah-lebah yang jatuh itu tidak mati, dan menjelang siang mereka terbang kembali ke pohon. Setelah lebah-lebah meninggalkan sarangnya dan juagan mulai mengambil madu, ia menyanyikan lagu yang disesuaikan dengan situasi yang dihadapinya. Jika juagan menemukan sarang yang tidak bermadu, ia misalnya akan menyanyikan lagu berikut:

Banyak nyamuk sialang bandung
banyak nyamuk sialang bandung
Duo kali tu’un ke tanah
dua kali turun ke tanah
Apo mengamuk ati nan jantung
kenapa mengamuk hati dan jantung
Itam mani indak di umah
hitam manis tidak di rumah

Jika juagan menemukan sarang bermadu, ia mengambil lilin lebah, lalu dimasukkan ke dalam wadah yang sudah disiapkan, kemudian diturunkan dengan tali dan disambut oleh pembantu-pembantu yang menunggu di bawah pohon bersama kepala suku.

Menyampaikan salam perpisahan
Bila pekerjaan mengambil madu hampir selesai, juagan menyanyikan lagu perpisahan sebagai berikut:

Apo tensu kayu diimbo
apa tensu kayu di rimba
Mai ko buat papan penaik
mari kubuat papan penaik
Adik bongsu jangan baibo
adik bungsu jangan berhiba
Kolam esok naik balik
kelam besok naik balik

Rujukan:
Kang, Yonhee. 2005. Untaian Kata Leluhur: marjinalitas, emosi, dan kuasa kata-kata magi di kalangan orang Petalangan Riau. Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau.
UU Hamidy. 1987. Rimba Kepungan Sialang, Jakarta: Balai Pustaka.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *