Boria

Pertunjukan Boria.

Borial, atau lebih dikenal dengan nama Boria, adalah kesenian tradisional masyarakat Melayu yang menggabungkan unsur lakonan (drama jenaka), nyanyian, dan tarian berkumpulan. Kesenian ini berkembang luas di wilayah Bengkalis, Kepulauan Riau, hingga Semenanjung Malaysia, dan menjadi salah satu bentuk hiburan rakyat yang merefleksikan asimilasi budaya Melayu dan India Selatan.

Asal-Usul dan Penyebaran
Borial berakar dari kesenian rakyat India Selatan, terutama yang dibawa oleh komunitas Tamil Muslim yang bermukim di Pulau Pinang pada masa kolonial Inggris. Tradisi ini mula-mula berkembang sebagai pertunjukan Muharram, di mana sekelompok penari dan penyanyi berarak mengelilingi kota sambil menyanyikan lagu pujian (carols) dan lawakan.

Bacaan Lainnya

Menurut R. J. Wilkinson (1959:153), istilah boria diartikan sebagai:
“Muharram minstrels or singers of carols. At the Muharram, especially in Penang, it is (or was) the custom for bands of serenaders in fancy dress to visit houses of prominent citizens and sing topical songs.”

Kesenian ini kemudian menyebar ke Riau dan Kepulauan Riau melalui hubungan sosial dan dagang antara Pulau Pinang, Singapura, dan Daik Lingga, terutama sejak pertengahan abad ke-19 ketika rombongan haji dari Riau banyak berangkat melalui rute tersebut.

Borial di Riau dan Kepulauan Riau
Masuknya Borial ke wilayah Riau berhubungan erat dengan masa pemerintahan Sultan Abdul Rahman al-Mu’azam Syah, Sultan terakhir Kerajaan Riau–Lingga (bertakhta 1886–1911). Pada masa ini, kesenian Borial mencapai puncak kepopulerannya, terutama di Pulau Penyengat dan Daik Lingga.

Menurut catatan Yayasan Indera Sakti Pulau Penyengat, lirik-lirik lagu Boria pernah dinyanyikan untuk menyambut Hari Raya Puasa di hadapan Sultan Abdul Rahman, sebagai bagian dari hiburan istana dan perayaan rakyat.

Hubungan antara Riau–Lingga dan Pulau Pinang telah terjalin sejak pertengahan abad ke-19, ketika rombongan jamaah haji dari Riau sering singgah di Pulau Pinang dalam perjalanan menuju Jeddah. Dari interaksi inilah bentuk kesenian Boria mulai dikenal dan kemudian diadaptasi ke dalam konteks kebudayaan Melayu Riau.

Perkembangan dan Ciri Khas Lokal
Ketika masuk ke Riau, kesenian Boria mengalami proses akulturasi dan lokalisasi. Seniman Melayu Riau menambahkan unsur-unsur musik, lagu, dan lakon yang berasal dari kesenian lokal sehingga menghasilkan bentuk Boria yang berciri khas Melayu Riau.

AspekBoria Pulau PinangBorial Riau
Konteks WaktuDilakukan pada bulan MuharramDipentaskan pada hari besar (Idulfitri, Iduladha, naik tahta sultan, pesta rakyat)
Fungsi SosialPujian religius dan satire sosialHiburan rakyat dan perayaan kenegaraan
Repertoar LaguLagu-lagu India Selatan dan ArabLagu Melayu, lagu rakyat setempat, dan lagu-lagu orkestra Belanda
Elemen CeritaSketsa lucu tanpa narasi jelasMulai memuat unsur cerita sederhana dan tokoh komedi
Tari dan GerakDiiringi tarian tradisi India MuslimDiadaptasi dengan gerak tari Melayu dan permainan lawak lokal

Kronik kerajaan Riau juga mencatat bahwa saat penabalan Sultan Abdul Rahman Lingga pada tahun 1858, orkestra tentara Hindia Belanda turut serta dalam perayaan, yang kemudian memengaruhi jenis musik pengiring dalam Borial (Netscher, 1870).

Struktur Pertunjukan
Pertunjukan Borial umumnya dilakukan oleh kelompok besar yang berarak keliling kampung atau tampil di halaman rumah bangsawan. Struktur pertunjukan biasanya terdiri dari beberapa rombongan berurutan, masing-masing dengan fungsi tersendiri:

  1. Rombongan Pembuka
    Sekelompok anak muda berpakaian seragam mirip tentara Eropa, berbaris sambil menari mengikuti irama musik. Mereka memperlihatkan kepiawaian dalam berbaris, menandai permulaan pertunjukan.
  2. Rombongan Lawak dan Tari
    Kelompok utama yang membawakan dialog jenaka, nyanyian bersahutan, dan tarian serentak.
    Di dalam kelompok ini biasanya muncul tokoh penari Jogi – seorang anak laki-laki yang berpakaian seperti perempuan dan menari dengan gerak lucu serta berlebihan, menimbulkan tawa penonton.
  3. Rombongan Silat dan Atraksi
    Memperlihatkan kepiawaian dalam bela diri tradisional, menunjukkan unsur maskulinitas dan keberanian Melayu.
  4. Rombongan Pengantin
    Menutup arak-arakan dengan simbol kemeriahan dan kesempurnaan pesta. Biasanya melibatkan anak-anak kecil yang didandani sebagai pengantin laki-laki dan perempuan, lengkap dengan perlengkapan adat seperti nasi kunyit, bunga melur, dan upacara bersuap-suapan.

Semakin panjang barisan rombongan dan semakin beragam ragam kesenian yang ditampilkan, semakin tinggi pula prestise kelompok Boria tersebut di mata masyarakat.

Makna Sosial dan Kultural
Kesenian Borial memiliki fungsi ganda: sebagai hiburan rakyat dan sebagai sarana perekat sosial dalam masyarakat Melayu. Pertunjukan ini sering dijadikan:

  • Wahana ekspresi kolektif, di mana masyarakat berpartisipasi dalam suasana gembira bersama.
  • Media kritik sosial, disampaikan melalui lakon lucu dan sindiran terhadap situasi masyarakat.
  • Wadah pendidikan budaya, karena memperkenalkan nilai-nilai sopan santun, gotong royong, dan penghargaan terhadap seni.

Selain itu, kehadiran Borial mencerminkan keterbukaan budaya Melayu terhadap pengaruh luar, namun tetap mempertahankan identitas lokal yang kuat.

Pelestarian dan Pengaruh Kini
Seiring perkembangan zaman, Borial mulai jarang dimainkan secara tradisional. Namun, bentuknya masih dilestarikan dalam festival budaya, terutama di Bengkalis, Pulau Penyengat, dan Lingga.
Beberapa sanggar seni dan komunitas budaya di Riau juga menghidupkan kembali Borial dalam bentuk drama tari musikal untuk memperkenalkan nilai sejarah dan identitas Melayu kepada generasi muda.

Rujukan:
Abdullah, T. 1985. Sejarah dan Budaya Melayu Riau-Lingga. Pekanbaru: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Andaya, L. Y. 2001. The Kingdom of Johor, 1641–1728: Economic and Political Developments. Kuala Lumpur: Oxford University Press.
Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau. 2019. Inventarisasi Kesenian Tradisional Melayu di Riau dan Kepulauan Riau. Tanjungpinang: BPNB Kepulauan Riau.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1997. Ensiklopedi Kebudayaan Melayu Riau. Jakarta: Depdikbud.
Mohd. Yatim, O. 1996. Boria: Warisan dan Perkembangannya di Pulau Pinang. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Netscher, E. 1870. De Nederlanders in Djohor en Siak, 1602–1865. Batavia: Lange & Co.
Wilkinson, R. J. 1959. A Malay–English Dictionary. London: Macmillan.
Yayasan Indera Sakti Pulau Penyengat. (n.d.). Dokumentasi Lirik dan Tradisi Boria Kerajaan Riau–Lingga. Pulau Penyengat, Riau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *