Batang Sialang

Batang Sialang beserta dengan Rimba Kepungan Sialang murupakan bagian dari tanah ulayat yang dijaga oleh hukum-hukum adat. (Foto: kosabudaya.id)

Batang Sialang adalah sejenis pohon besar yang dijadikan tempat bersarang oleh lebah madu dan memiliki kedudukan penting dalam sistem sosial, budaya, dan hukum adat masyarakat Melayu di Riau dan sekitarnya. Pohon ini tidak hanya bernilai ekologis sebagai tempat hidup lebah, tetapi juga memiliki nilai simbolik dan sakral sebagai tanda keberakaran suatu komunitas adat terhadap wilayahnya.

Satu batang sialang besar dapat menampung hingga 200 sarang lebah, dan menghasilkan ratusan liter madu dalam satu musim panen. Madu yang dihasilkan dikenal sebagai madu sialang, memiliki warna keemasan dan cita rasa khas yang bergantung pada jenis bunga di sekitar rimba kepungan. Madu ini dipercaya berkhasiat tinggi dan sering digunakan dalam pengobatan tradisional.

Bacaan Lainnya

Batang sialang dan rimba kepungan sialang secara de facto dilindungi oleh hukum adat, dan dalam beberapa daerah juga diakui dalam peraturan daerah tentang pengelolaan hutan adat. Pelanggaran terhadap larangan adat, seperti menebang pohon sialang atau mencuri madu tanpa izin, dapat dikenai sanksi berat berupa denda adat (upah adat) dan pengucilan sosial.

Kepemilikan Batang Sialang
Dalam sistem adat Melayu Riau, Batang Sialang dimiliki secara komunal oleh satu suku, kampung, atau masyarakat adat. Kepemilikan ini tidak bersifat perseorangan, tetapi kolektif — dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan bersama.

Pengelolaannya berada di bawah kewenangan pemimpin adat, seperti batin, penghulu, atau ninik mamak yang bertugas menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Di sekitar batang sialang terdapat kawasan hutan yang disebut “rimba kepungan sialang”, yaitu hutan pelindung tempat lebah mencari pakan dari berbagai jenis bunga. Kawasan ini merupakan “tanah ulayat” yang dilindungi oleh undang-undang adat. Tidak seorang pun diperbolehkan menebang pohon, membakar hutan, atau merusak vegetasi di sekitar rimba kepungan sialang, karena diyakini akan mengganggu koloni lebah dan mengundang bala bagi masyarakat.

Ritual Manumbai
Salah satu tradisi penting yang berkaitan dengan batang sialang adalah upacara manumbai, yaitu ritual memanen madu lebah hutan.
Ritual ini dilaksanakan sekali dalam setahun, biasanya pada musim bunga ketika sarang-sarang lebah telah penuh madu. Prosesi manumbai dilakukan secara sakral dengan memanjat pohon sialang menggunakan tangga dari rotan atau bambu, sambil membawa obor dan wadah penampung madu.

Sebelum manumbai dilakukan, masyarakat adat akan mengadakan selamatan adat, seperti:

  • Menyuguhkan sesaji berupa sirih, pinang, dan beras kunyit.
  • Membaca doa adat oleh batin atau penghulu untuk memohon izin kepada roh penjaga hutan dan lebah.
  • Pantangan adat diberlakukan, misalnya larangan berkata kasar, bersiul, atau menyalakan api sembarangan di sekitar rimba sialang.

Ritual manumbai bukan hanya kegiatan ekonomi, tetapi juga perwujudan hubungan spiritual antara manusia dan alam, menunjukkan rasa hormat dan syukur atas anugerah madu dari alam.

Pemaknaan Sialang
Kata sialang umumnya merujuk kepada sebutan untuk pohon yang menjadi rumah bagi sarang lebah, yaitu batang sialang. Terdapat dua pendapat mengenai pohon ini.

Pertama, bahwa sialang merujuk pada nama pohon tertentu dengan nama latinnya Koompassia excelsa (Becc.)  dari keluarga Liguminosa, sejenis pohon hutan yang besar dan tinggi. Ketinggiannya dapat mencapai 85 meter. Batangnya berdiameter antara 1-2,5 meter, berbanir tinggi dan berwarna kelabu kekuningan. Dahannya banyak sehingga mem­bentuk dom dan kadang-kadang terdapat subsilara yang juga berbentuk dom. Daunnya berwarna hijau dan biasanya luruh setahun sekali. Pohon ini memiliki getah beracun yang dapat menyebabkan gatal-gatal dan bengkak-bengkak. Meskipun pohon ini termasuk pohon yang keras kayunya, namun dahannya rapuh dan kadang-kadang patah sendiri.

Kedua, menyatakan bahwa nama sialang tidak merujuk pada pohon tertentu. Pengertian ini yang banyak dipakai di Sumatera, khususnya di wilayah berbahasa Melayu. Nama sialang adalah nama yang umum dipakai semua pohon yang dapat menjadi tempat sarang lebah, jadi dalam kenyataan sialang berarti “Pohon Lebah”. Di antara jenis-jenis pohon itu, Skeat menyebutkan pohon Pulai dan pohon Kompas. Pohon sialang secara umum merujuk pada pohon-pohon yang tingginya kadang mencapai 50 meter, yang paling menyolok dibandingkan dengan pohon-pohon lain di sekitarnya. Umumnya pohon sialang memiliki daun-daun kecil yang halus, batang yang lembut, dan tumbuh di puncak sebuah bukit.

Pohon-pohon ini sangat berharga karena menjadi rumah bagi sarang lebah dan bisa memuat sampai 200 sarang, yang masing-masing dapat menghasilkan sampai 26 kilogram madu. Dengan panen sekali setahun, sebatang pohon sialang dapat menghasilkan sampai 5.000 kilogram madu per tahun. Setelah dipanen, lilin lebah dari sarang lebah dikirim ke tempat-tempat yang membuat lilin dan kain batik, sedangkan madunya dipakai untuk bahan obat dan makanan. Pengumpulan madu dan lilin lebah, serta pemeliharaan sialang, juga memerlukan pengetahuan khusus, yang dipakai oleh warga untuk kepentingan kemakmuran ekonomi mereka.   

Menurut kepercayaan orang Melayu, batang sialang berpenunggu, sehingga jarang ditebang orang. Orang mempercayai barang siapa menebang pohon ini akan tertimpa musibah yang dapat membawa kematian.

Pengumpulan madu dan lilin lebah dari batang sialang menjadi salah satu aktivitas ekonomi utama orang Petalangan di masa lalu dan memiliki kaitan spiritual penting. Jika panen, orang Petalangan harus mempersembahkan madu dan lilin lebah kepada raja Siak atau wakilnya, di bawah aturan perdagangan serahan, untuk ditukar dengan besi, garam, atau kain. Untuk mengambil madu dari pohon sialang, orang Petalangan melakukan ritual yang disebut menumbai. Sialang juga menjadi lambang penting dalam beberapa ritual pengobatan, misalnya, dalam dikei pada orang Sakai.

Sialang Muda
Pohon yang akan menjadi batang sialang disebut dengan sialang muda. Sialang ini belum mendapat sarang lebah, sehingga tidak menghasilkan madu. Sialang muda dipersiapkan oleh calon pemilik batang sialang dengan merawat dan menjaganya kelestariannya. Perawatan meliputi membersihkan pangkal sialang dari semak-semak dan batang sialang dari akar dan semut, menjaga keragaman jenis pohon yang terdapat di Rimba Kepungan Sialang, sedangkan pelestarian yaitu menjaga anak-anak Sialang Muda dari penebangan dan kepunahan.

Pada masa lalu, pangkal sialang muda disiram dengan air intan, yaitu air yang telah direndamkan lebih dahulu intan di dalamnya. Air intan diharapkan memberi simbol sebagai air yang bercahaya. Air itu disiramkan dengan gerak tangan dari bawah ke atas. Penyiraman air intan bertujuan sebagai daya tarik lebah, sebab kayu itu “diibaratkan” telah bercahaya. Masyarakat mempercayai, lebah menyukai sesuatu yang bercahaya.

Dalam kepercayaan masyarakat, lebah dipandang sebagai putri (di Petalangan disebut lalat putih Sri Majnun). Seorang putri dipercaya tertarik kepada sesuatu yang bercahaya semisal intan. Dengan penyiraman air intan, maka “putri” akan singgah di batang sialang untuk membangun sarang.

Di beberapa komunitas masyarakat, batang sialang dibagi menjadi tiga jenis yaitu anak sialang, kayu sialang (sialang muda), dan batang sialang. Anak sialang adalah jenis kayu yang dapat menjadi batang sialang tetapi masih kecil. Pohon ini memiliki tinggi sekitar 5 meter. Kayu sialang adalah pohon sialang yang sudah tinggi dan besar tetapi belum menghasilkan madu atau belum menjadi tempat lebah bersarang. Tanda pada kayu sialang jenis sulur batang yang segera menjadi batang sialang yaitu pada dahan paling bawah yang telah lapuk dan jatuh akan menimbulkan bekas bungkul. Bagian bungkul tersebut akan menjadi tempat yang paling disukai lebah untuk membangun sarang. Sarang lebah pertama akan diikuti oleh kawanan lebah lainnya sehingga terbentuk koloni lebah.

Jenis Kayu Batang Sialang
Istilah Batang Sialang tidak menunjuk pada satu jenis botani tertentu, melainkan pada pohon-pohon besar yang disukai lebah untuk bersarang. Jenis kayu yang lazim ditemukan adalah adalah pulai, jelutung, rengas, kedundung, cempedak air, sulur batang, dan rumah keluang. Jenis ini berkembang biak dengan bijinya. Sehingga, sebuah pohon cikal bakal batang sialang memerlukan puluhan tahun untuk bisa menjadi batang sialang. Dalam kepercayaan masyarakat, anak sialang biasanya tumbuh dengan cepat bila sialang yang tua telah mati.

Pohon-pohon tersebut umumnya tumbuh di hutan primer atau hutan rakyat tua dengan batang yang lurus, kulit keras, dan tajuk yang tinggi, sehingga cocok bagi lebah untuk menggantungkan sarang-sarang madu.

Sulur batang adalah jenis kayu yang dalam cerita rakyat disebutkan dibawa bibitnya oleh Datuk Demang Serail dari negeri Johor. Dinamai sulur batang karena pohon yang besar tinggi ini sering berganti kulit batangnya. Kulit batang yang berganti-ganti serupa itu tampak seperti sulur pada kulit ular yang juga berganti kulit. Jenis kayu sialang ini mempunyai tanda-tanda berdaun halus kecil, batang licin dan berkelopak-kelopak yang disebut sulur, dahan lampai, dan umumnya tumbuh di daerah bukit.1

Rumah keluang adalah jenis kayu besar serta tinggi. Disebut rumah keluang karena jika lebah tidak bersarang, maka akan didiami oleh keluang. Ciri-ciri pohon kayu ini adalah berdaun lebar, batang tidak bersisik (tidak berkelopak-kelopak), dahan pendek dan tidak bersiku-siku, dan tumbuh biasanya dilereng bukit atau dirona-rona yang tidak berair.

Cempedak air hampir mirip dengan pohon cempedak, tetapi tidak berbuah seperti cempedak. Disebut cempedak air, karena batangnya menyerupai pohon cempedak (nangka) dan tumbuh dipinggir sungai-sungai kecil atau rawa-rawa. Pohon ini berdaun halus, batang licin, putih, dan bergetah, daun pendek tidak bersiku, dan sering tumbuh di rawang atau bencah.

Ukuran pohon batang sialang umumnya berdiameter pangkal sekitar 2 meter, bahkan lebih. Sedangkan tingginya paling kurang 30-50 meter. Batang sialang dapat bertahan hingga berumur 50 tahun.

Di sekeliling batang sialang terdapat rimba kepungan sialang. Rimba ini menjadi laman bermain lebah untuk menghisap nektar bunga yang nantinya akan menjadi madu lembah.

Daftar Pustaka:
Amir, A. 2018. Sialang: Simbol Kosmos dalam Budaya Melayu Riau. Pekanbaru: Balai Pelestarian Nilai Budaya Riau.
Haryono, S. 2002. Lebah Hutan dan Tradisi Manumbai di Sumatera. Jakarta: Pusat Penelitian Kehutanan.
Skeat, W. W. 1900. Malay Magic: An Introduction to the Folklore and Popular Religion of the Malay Peninsula. London: Macmillan.
Rahman, Elmustian, dkk. 2012. Ensiklopedia Kebudayaan Melayu Riau. Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau.
TIM LAMR. 2018. Buku Sumber Pegangan Guru Pendidikan Budaya Melayu Riau. Pekanbaru: Lembaga Adat Melayu Riau.
Zakaria, N. 2020. “Batang Sialang dan Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Hutan Adat.” Jurnal Kebudayaan Melayu, 8(2), 45–62.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *