Dewi Perindu

Dewi Perindu, Ilustrasi. (Gambar: kosabudaya.id)

Dewi Perindu adalah tokoh mitologis dalam tradisi lisan masyarakat Melayu, khususnya di wilayah Riau, Johor, dan Kepulauan Lingga. Ia digambarkan sebagai salah satu golongan dewi kayangan yang memiliki suara paling merdu di antara para dewi lainnya dan sering dikaitkan dengan legenda asal-usul beberapa tempat di kawasan Semenanjung Melayu dan Kepulauan Riau.

Dewi Perindu diyakini bersemayam di beberapa puncak gunung suci dalam tradisi Melayu lama. Dalam berbagai cerita rakyat disebutkan bahwa ia memiliki mahligai di Gunung Ledang (Semenanjung Johor) pada masa Kerajaan Melayu Johor berdiri. Selain itu, ia juga dikatakan kerap bersemayam di Gunung Bintan (Pulau Bintan), Gunung Daik (Pulau Lingga), dan Gunung Lanjut (Pulau Singkep).

Bacaan Lainnya

Gunung-gunung tersebut dianggap sebagai tempat bersemayam para makhluk halus, dewa, dan dewi yang menjaga keseimbangan dunia manusia dengan alam gaib.

Makna Nama dan Ciri dan Kekhasan
Nama Perindu sendiri tidak diketahui secara pasti asal-usul dan alasan pemberiannya. Terdapat berbagai tafsir di kalangan masyarakat:

  1. Nama itu mungkin berasal dari kata rindu, mencerminkan sifatnya yang penuh kerinduan.
  2. Ada pula yang menafsirkan bahwa ia dinamai demikian karena diharapkan menjadi makhluk yang selalu dirindukan oleh siapa pun yang mengenalnya.
  3. Sebagian lagi berpendapat bahwa Perindu adalah sebutan bagi makhluk yang lahir dari golongan dewi yang memiliki jiwa lembut dan penuh kasih.

Namun, tidak ada sumber yang mampu menjelaskan secara pasti asal mula penamaan tersebut.

Dewi Perindu memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari para dewi lainnya:

  1. Warna Kuning Emas — Ia dikenal sangat menyukai segala sesuatu yang berwarna kuning emas. Pakaian, perhiasan, hingga benda-benda yang digunakannya selalu berwarna tersebut. Warna ini melambangkan kemuliaan, kesucian, dan keagungan dalam budaya Melayu.
  2. Suara Merdu — Ia memiliki suara yang sangat merdu dan mampu bernyanyi dengan nada panjang tanpa harus menarik napas.
  3. Kepandaian Bertutur — Dalam mitosnya, Dewi Perindu dikisahkan memiliki kecerdasan luar biasa dan kemampuan berbicara yang sangat indah dan meyakinkan. Ucapannya dikatakan penuh hiasan bahasa, argumentatif, dan komunikatif, menjadikannya lambang keanggunan dan kecerdasan perempuan Melayu.

Kisah Dewi Perindu
Salah satu kisah utama yang berkaitan dengan Dewi Perindu adalah hasratnya untuk hidup sebagai manusia. Pada masa Kerajaan Melaka mencapai kejayaan, Dewi Perindu memohon kepada orang tuanya agar diizinkan turun ke bumi dan hidup di istana manusia. Permintaan itu ditolak dengan alasan yang tidak ia pahami.

Permohonan serupa ia ajukan kembali pada masa Kerajaan Melayu Johor, namun hasilnya tetap sama — ditolak.

Keinginannya baru dikabulkan setelah pusat pemerintahan kerajaan berpindah ke Pulau Penyengat di kawasan Pulau Bintan bagian selatan. Namun, orang tuanya memberikan syarat berat: Dewi Perindu tidak boleh memperlihatkan wujud aslinya dan hanya diperkenankan menyamar sebagai tumbuhan di bumi, yakni batang keju (bambu).

Syarat ini dimaksudkan agar ia tidak dipersunting manusia dan tidak mengubah tatanan dunia antara makhluk langit dan makhluk bumi. Meskipun demikian, karena rasa rindunya yang mendalam terhadap kehidupan manusia, Dewi Perindu menerima syarat tersebut dengan penuh kesadaran.

Legenda Pulau Buluh
Dalam kisah rakyat yang berkembang di Riau, Dewi Perindu dikaitkan dengan asal-usul nama Pulau Buluh, sebuah pulau kecil yang terletak di antara Pulau Batam dan Pulau Bulan.

Dikisahkan bahwa suatu ketika sekelompok pemburu istana dari Kerajaan Melayu mengunjungi pulau kecil itu. Mereka menemukan bahwa satu-satunya tumbuhan yang tumbuh di sana hanyalah pohon buluh (bambu). Karena itu, sang pangeran menamai pulau tersebut Pulau Buluh, nama yang masih dikenal hingga kini.

Rombongan pemburu istana itu sering datang ke Pulau Buluh karena hasil buruannya selalu melimpah. Hewan-hewan seperti pelanduk bahkan dapat ditangkap dengan tangan kosong tanpa senjata.

Setelah berburu, sang putra raja bermimpi bertemu seorang gadis berpakaian kuning emas, berhias serba emas, dan bersuara amat merdu. Gadis itu membantunya menangkap pelanduk-pelanduk tersebut. Dalam beberapa versi cerita, gadis itu diyakini sebagai penjelmaan Dewi Perindu yang tengah menyamar di bumi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *