Datuk Penjarang adalah tokoh legendaris dalam sejarah dan tradisi lisan Kerajaan Pekaitan, sebuah kerajaan Melayu yang berdiri pada abad ke-15 Masehi di pesisir Sungai Rokan, wilayah yang kini termasuk Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Ia dikenal sebagai Kepala Hulubalang (panglima perang utama) pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Besar Sungai Daun, raja Kerajaan Pekaitan yang terkenal adil, dermawan, dan gemar berpesta bersama rakyatnya.
Kerajaan Pekaitan pada masa itu merupakan kelanjutan dari Kerajaan Rokan pertama di Kotalama yang telah hilang akibat perubahan alam dan politik. Ibu kotanya, Pekaitan, terletak di seberang Bagansiapiapi, di barat daya Kampung Sungai Besar, sekitar lima kilometer dari muara Sungai Rokan dan berhadapan langsung dengan Selat Melaka. Lokasi strategis ini menjadikan Pekaitan sebagai pelabuhan dagang penting yang ramai disinggahi kapal dari Pasai, Melaka, India, Arab, Tiongkok, hingga Eropa.
Kedudukan dan Peranan
Sebagai Kepala Hulubalang, Datuk Penjarang menempati posisi tertinggi di bawah Panglima Nayan, panglima kerajaan yang terkenal gagah berani dan ditakuti oleh pihak Portugis (yang disebut Peringgi oleh orang Rokan). Datuk Penjarang bertanggung jawab atas urusan militer, keamanan kerajaan, serta menjadi pengawal istana dan pelindung raja.
Ia digambarkan sebagai tokoh yang gagah, berilmu bela diri tinggi, dan memiliki kekuatan luar biasa. Dalam kisah rakyat, tubuhnya tinggi tegap seperti batang pinang, kulitnya kuning langsat, alisnya melengkung seperti bulan sabit, dan dadanya berbulu lebat. Meskipun seorang hulubalang perang, ia dikenal berbudi bahasa halus dan tutur katanya menawan hati.
Datuk Penjarang juga dikenal memiliki perahu sakti bernama Seludang Pinang. Menurut cerita, perahu ini dapat melaju sangat cepat hanya dengan sekali tekan galah dari kayu meranti bujang. Begitu cepatnya perahu itu, dikatakan bulu ayam sabungan yang diikat di haluan perahu bisa tercabut karena laju angin saat berlayar.
Peranan dalam Pertahanan dan Pemerintahan
Pada masa kejayaan Kerajaan Pekaitan, pertahanan negeri diperkuat dengan latihan militer bagi para pemuda dan anak raja-raja. Mereka belajar berkuda, memanah, serta menggunakan senjata tradisional seperti tombak, keris, pedang, dan lelo (meriam). Datuk Penjarang berperan penting dalam melatih para hulubalang muda dan menjaga keamanan pelabuhan kerajaan dari ancaman bajak laut atau serangan asing, termasuk dari Portugis dan kerajaan-kerajaan pesaing di sekitar Selat Melaka.
Ia juga mendampingi Panglima Nayan dalam berbagai peperangan. Keberanian mereka dikenal luas hingga ke wilayah lain di pesisir timur Sumatera. Dalam tradisi lisan masyarakat Rokan, nama Datuk Penjarang kerap disandingkan dengan tokoh-tokoh kepahlawanan Melayu seperti Hang Tuah di Melaka dan Laksamana Bentan di Johor.
Kisah dengan Putri Hijau
Salah satu legenda paling terkenal yang terkait dengan Datuk Penjarang adalah kisah “Datuk Penjarang dan Putri Hijau.” Menurut hikayat, Putri Hijau adalah seorang putri cantik jelita yang berasal dari Gunung Ledang, di daratan Melaka. Ia berkelana dari satu negeri ke negeri lain—termasuk Melaka, Bintan, hingga akhirnya tiba di Pekaitan—dalam pencarian jodoh seorang laki-laki yang pada kepalanya terdapat bekas parutan luka.


