Datuk Penjarang

Datuk Penjarang, ilustrasi. (Gambar: kosabudaya.id)

Saat tiba di Pekaitan, Putri Hijau menyamar sebagai perempuan tua dan menumpang di rumah Datuk Penjarang. Ketika ia mengetahui bahwa kepala Datuk Penjarang terdapat parutan luka, hatinya mulai yakin bahwa dialah orang yang dicarinya. Namun, karena malu dan hati-hati, ia tidak segera menampakkan jati dirinya.

Datuk Penjarang sendiri mulai curiga bahwa tamunya bukanlah orang sembarangan, karena pernah terlihat cahaya hijau bersinar dari dalam rumahnya pada malam hari—tanda kehadiran makhluk mulia. Ia akhirnya mengetahui bahwa perempuan tua itu adalah Putri Hijau yang termasyhur itu.

Bacaan Lainnya

Karena takut sang putri direbut oleh raja, Datuk Penjarang berencana melarikannya ke Siarangarang. Ia menyiapkan sampan khusus bernama Landak Menari, dihias dengan tirai dan kelambu kuning sebagai tanda kemuliaan seorang putri. Diam-diam ia membawa Putri Hijau berlayar menyusuri Batang Rokan.

Dalam perjalanan itu, beberapa tempat di sepanjang sungai dinamai berdasarkan peristiwa antara Datuk Penjarang dan Putri Hijau:

  • Sangko Duo, tempat di mana Putri Hijau bimbang—setengah ingin, setengah menolak lamaran Datuk Penjarang.
  • Pemujukan, tempat Datuk Penjarang membujuk sang putri dengan lembut.
  • Padang Pendapatan, tempat keduanya mencapai kesepakatan untuk menikah.

Setibanya di Siarangarang, Datuk Penjarang membangun mahligai megah beratapkan ijuk bagi Putri Hijau. Namun, kedamaian mereka tidak bertahan lama. Kabar keberadaan Putri Hijau sampai ke telinga pasukan Aceh, yang kemudian menyerang Pekaitan untuk menjemput sang putri. Dalam pertempuran sengit di Sungai Rokan, Datuk Penjarang dan Panglima Nayan berhasil mempertahankan negeri, memukul mundur pasukan Aceh hingga ke Kuala Mahato. Sisa-sisa makam prajurit Aceh dikabarkan masih ditemukan di sana hingga kini.

Warisan dan Legenda
Dalam tradisi masyarakat Rokan Hilir, Datuk Penjarang dikenang sebagai pahlawan berani dan setia, simbol keberanian Melayu dalam mempertahankan kehormatan dan cinta tanah air. Namanya melekat dalam berbagai toponim seperti Padang Pendapatan, Pemujukan, dan Sangko Duo, yang dipercaya berasal dari kisah perjalanan beliau bersama Putri Hijau.

Selain kisah kepahlawanan dan asmara, masyarakat setempat juga meyakini bahwa peninggalan Datuk Penjarang dan Putri Hijau, seperti caping perak dan emas, masih tersembunyi di gua-gua Bukit Siarangarang, dijaga oleh ular besar dan tak boleh diganggu. Cerita-cerita ini menjadi bagian penting dari warisan budaya lisan Melayu Rokan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *