Panglima Kenaik

Kampung Bukit Batu. (Foto: disparbudpora.bengkaliskab.go.id)

c. Keterlibatan dalam Ekspedisi Siak–Deli (1790)
Pada tahun 1790 M, ketika Kesultanan Siak Sri Indrapura melakukan ekspedisi militer ke Kerajaan Deli Serdang, Panglima Kenaik turut serta dalam armada perang yang dikenal dengan Lancang Kuning.
Ia berada di bawah komando Datuk Laksamana Bukit Batu, membantu Siak memperluas pengaruhnya dan merebut kembali wilayah taklukannya.

d. Perang Salowatang (1825)
Pada tahun 1825 M, wilayah Bukit Batu kembali diserang oleh pasukan Bugis Salowatang. Dalam perang yang dikenal sebagai Perang Salowatang ini, Panglima Kenaik bersama Datuk Laksamana dan panglima-panglima Bukit Batu memimpin perlawanan mempertahankan negeri.

Bacaan Lainnya

Perang tersebut menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah militer Melayu Riau karena berhasil menahan ekspansi pasukan Bugis dari arah laut.

Masa Tua dan Kehidupan Spiritual
Setelah usia lanjut, Panglima Kenaik menempuh jalan spiritual. Ia berangkat ke Pesilam, Langkat (Sumatera Utara) untuk memperdalam ilmu agama Islam di bawah bimbingan Syekh Abdul Wahab, seorang ulama sufi terkenal di kawasan itu.

Setelah beberapa lama menuntut ilmu, ia kembali ke Bukit Batu dan memilih kehidupan yang tenang. Bersama keluarganya, ia kemudian hijrah ke tempat yang dikenal sebagai Kampung Tanjung Balai Dalam, yang lama-kelamaan berubah nama menjadi Kampung Gawar-Gawar.

Di kampung inilah ia menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat sekitar tahun 1850 M, dalam usia sekitar 90 tahun.

Makam Panglima Kenaik terletak di Kampung Gawar-Gawar, Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
Kompleks makam ini berada di lahan tinggi di antara kebun dan perkampungan tua, tidak jauh dari aliran anak Sungai Pakning. Di sekitar makam terdapat beberapa nisan lain yang diyakini sebagai makam keluarga dan pengikut beliau.

Nisan Panglima Kenaik terbuat dari batu sungai tua berwarna kelabu, berbentuk pipih dengan ukiran sederhana bergaya Melayu pesisir abad ke-19.
Penduduk setempat secara turun-temurun menjaga dan membersihkan makam ini, terutama menjelang bulan Ramadan dan pada hari-hari tertentu seperti hari Jumat terakhir bulan Sya’ban.

Ziarah ke makam Panglima Kenaik bukan sekadar bentuk penghormatan, tetapi juga pengingat nilai perjuangan dan keteguhan iman. Dalam adat Melayu Riau, makam tokoh besar seperti ini disebut “tapak sejarah”—penanda jejak peradaban yang perlu dijaga.

Peninggalan dan Warisan
Beberapa peninggalan fisik dan nonfisik yang masih dapat dijumpai antara lain:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *